TUGAS MATA KULIAH KEPERAWATAN ANAK I
ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN DIARE
Dosen : Walin,
SST,.M.Kes.

Disusun oleh :
Amalia Rizky Primadika P17420213078
Andina Citra Nugraheni P17420213079
Andriyanto P17420213080
Annisatul Maqhfiroh P17420213081
Anugrah Pinundhi IK P17420213082
KELAS 2 C
KEMENTRIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA
POLITEKNIK KESEHATAN SEMARANG
PRODI DIII KEPERAWATAN PURWOKERTO
TAHUN AJARAN 2014/2015
A.
PENGERTIAN
Diare adalah suatu penyakit
dengan tanda-tanda adanya perubahan bentuk dan konsistensi dari tinja, yang
melembek sampai mencair dan bertambahnya frekuensi buang air besar biasanya
tiga kali atau lebih dalam sehari (Depkes RI, 2005).
Diare adalah buang air besar
(defekasi) dengan tinja berbentuk cair atau setengah cair (setengah padat),
kandungan air tinja lebih banyak dari biasanya lebih dari 200 gram atau 200
ml/24 jam (Simadibrata, 2006).
Diare adalah berak-berak
yang lebih sering dari biasanya (3 x atau lebih dalam sehari) dan berbentuk
encer, bahkan dapat berupa seperti air saja, kadang-kadang juga disertai dengan
muntah, panas dan lain-lain (Widoyono, 2008).
Diare merupakan suatu
keadaan pengeluaran tinja yang tidak normal atau tidak seperti biasanya.
Perubahan yang terjadi berupa peningkatan volume, keenceran dan frekuensi
dengan atau tanpa lendir darah, seperti lebih dari 3 kali/hari dan pada
neonatus lebih dari 4 kali/hari (Hidayat, Aziz Alimul, 2008).
Diare adalah kehilangan
cairan dan elektrolit secara berlebihan yang terjadi karena frekuensi satu kali
atau lebih buang air besar dengan bentuk tinja yang encer atau cair (Suriadi
dan Rita Yulianni, 2006).
Diare adalah peningkatan dalam frekuensi buang air
besar (kotoran), serta pada kandungan air dan volume kotoran itu. Para Odha
sering mengalami diare. Diare dapat menjadi masalah berat. Diare yang ringan
dapat pulih dalam beberapa hari. Namun, diare yang berat dapat menyebabkan
dehidrasi (kekurangan cairan) atau masalah gizi yang berat (Yayasan Spiritia,
2011)
B.
GAMBAR


C.
ETIOLOGI
Menurut Ngastiyah, 2005 :
1.
Faktor infeksi
a.
Infeksi enteral. Infeksi saluran pencernaan yang merupakan
penyebab utama diare pada anak, meliputi infeksi bakteri (Vibrio, E. coli,
Salmonella, Shigella, Campylobacter, Yersinia, Aeromonas, dsb), infeksi virus
(Enterovirus, Adenovirus, Rotavirus, Astrovirus, dll), infeksi parasit (E.
hystolytica, G. lamblia, T. hominis) dan jamur (C. albicans).
b.
Infeksi parenteral. Merupakan infeksi di luar sistem
pencernaan yang dapat menimbulkan diare seperti: otitis media akut,
tonsilitis,bronkopneumonia, ensefalitis, dsb.
2.
Faktor malabsorbsi
Malabsorbsi karbohidrat:
disakarida (intoleransi laktosa, maltosa dan sukrosa), monosakarida
(intoleransi glukosa, fruktosa dan galaktosa). Intoleransi laktosa merupakan
penyebab diare yang terpenting pada bayi dan anak. Di samping itu dapat pula
terjadi malabsorbsi lemak dan protein.
3.
Faktor makanan
Diare dapat terjadi karena
mengkonsumsi makanan basi, beracun dan alergi terhadap jenis makanan tertentu.
4.
Faktor psikologis
Diare dapat terjadi karena
faktor psikologis (rasa takut dan cemas), jarang terjadi tetapi dapat ditemukan
pada anak yang lebih besar.
Menurut
World GastroenterologyOrganization Global Guidelines 2005, etiologi diare akut
dibagi atas empat penyebab :
1.
Bakteri : Shigella, Salmonella, E. coli, Gol. Vibrio,
Bacillus cereus, Clostridium perfringens, Stafilokokus aureus, Campylobacter
aeromonas.
2.
Virus : Rotavirus, Adenovirus, Norwalk virus, Coronavirus,
Astrovirus.
3.
Parasit : Prorozoa, Entamoeba histolytica, Giardia lamblia,
Balantidium coli, Trichuris trichiura, Cryptosporidium parvum, Strongyloides
stercoralis.
4.
Non infeksi : malabsorbsi, keracunan makanan, alergi,
gangguan motilitas, imunodefisiensi, kesulitan makan, dll.
D. TANDA DAN GEJALA
Mula-mula
anak cengeng, gelisah, suhu tubuh naik, nafsu makan berkurang kemudian timbul
diare. Tinja mungkin disertai lendir dan darah. Warna tinja makin lama berubah
kehijauan karena bercampur dengan empedu, daerah anus dan sekitarnya timbul
luka lecet karena sering defikasi dan tinja yang asam akibat laktosa yang tidak
diabsorbsi usus selama diare. Gejala muntah dapat timbul sebelum atau selama
diare dan dapat disebabkan karena lambung turut meradang atau akibat gangguan
keseimbangan asam basa dan elektrolit. Bila kehilangan cairan terus berlangsung
tanpa pergantian yang memadai gejala dehidrasi mulai tampak yaitu : BB turun,
turgor kulit berkurang, mata dan ubun-ubun cekung (bayi), selaput lendir bibir
dan mulut, serta kulit kering.
Bila
berdasarkan terus berlanjut, akan terjadi renjatan hypovolemik dengan gejala
takikardi, denyut jantung menjadi cepat, nadi lemah dan tidak teraba, tekanan
daran turun, pasien tampak lemah dan kesadaran menurun, karena kurang cairan,
deuresis berkurang (oliguria-anuria). Bila terjadi asidosis metabolik pasien
akan tampak pucat, nafas cepat dan dalam (pemafasan kusmaul).
E. PATOFISIOLOGI DAN PATHWAY
Fungsi utama dari saluran cerna adalah menyiapkan makanan untuk keperluan
hidup sel, pembatasan sekresi empedu dari hepar dan pengeluaran sisa-sisa
makanan yang tidak dicerna. Fungsi tadi memerlukan berbagai proses fisiologi
pencernaan yang majemuk, aktivitas pencernaan itu dapat berupa: (Sommers,1994;
Noerasid, 1999 cit
Sinthamurniwaty 2006)
1. Proses masuknya makanan dari mulut kedalam usus.
2. Proses pengunyahan (mastication) :
menghaluskan makanan secara mengunyah dan mencampur.dengan enzim-enzim
di rongga mulut
3. Proses penelanan makanan (diglution)
: gerakan makanan dari mulut ke gaster
4. Pencernaan (digestion) : penghancuran
makanan secara mekanik, percampuran dan hidrolisa bahan makanan dengan
enzim-enzim
5. Penyerapan makanan (absorption): perjalanan
molekul makanan melalui selaput lendir usus ke dalam. sirkulasi darah dan
limfe.
6. Peristaltik: gerakan dinding usus secara ritmik berupa gelombang kontraksi
sehingga makanan bergerak dari lambung ke distal.
7. Berak (defecation) : pembuangan
sisa makanan yang berupa tinja.
Dalam keadaan normal dimana saluran pencernaan berfungsi efektif akan
menghasilkan ampas tinja sebanyak 50-100 gr sehari dan mengandung air sebanyak
60-80%. Dalam saluran gastrointestinal cairan mengikuti secara pasif gerakan
bidireksional transmukosal atau longitudinal intraluminal bersama elektrolit
dan zat zat padat lainnya yang memiliki sifat aktif osmotik. Cairan yang berada
dalam saluran gastrointestinal terdiri dari cairan yang masuk secara per oral,
saliva, sekresi lambung, empedu, sekresi pankreas serta sekresi usus halus.
Cairan tersebut diserap usus halus, dan selanjutnya usus besar menyerap kembali
cairan intestinal, sehingga tersisa kurang lebih 50-100 gr sebagai tinja.
Motilitas usus halus mempunyai fungsi untuk:
1. Menggerakan secara teratur bolus makanan dari lambung
ke sekum
2. Mencampur khim dengan enzim pankreas dan empedu
3. Mencegah bakteri untuk berkembang biak.
Faktor-faktor fisiologi yang menyebabkan diare sangat erat hubungannya satu
dengan lainnya. Misalnya bertambahnya cairan pada intraluminal akan menyebabkan
terangsangnya usus secara mekanis, sehingga meningkatkan gerakan peristaltik
usus dan akan mempercepat waktu lintas khim dalam usus. Keadaan ini akan
memperpendek waktu sentuhan khim dengan selaput lendir usus, sehingga
penyerapan air, elektrolit dan zat lain akan mengalami gangguan.
Berdasarkan gangguan fungsi fisiologis saluran cerna dan macam penyebab
dari diare, maka patofisiologi diare dapat dibagi dalam 3 macam kelainan pokok
yang berupa :
1. Kelainan gerakan transmukosal air dan elektrolit
(karena toksin)
Gangguan
reabsorpsi pada sebagian kecil usus halus sudah dapat menyebabkan diare,
misalnya pada kejadian infeksi. Faktor lain yang juga cukup penting dalam diare
adalah empedu. Ada 4 macam garam empedu yang terdapat di dalam cairan empedu
yang keluar dari kandung empedu. Dehidroksilasi asam dioksikholik akan
menyebabkan sekresi cairan di jejunum dan kolon, serta akan menghambat absorpsi
cairan di dalam kolon. Ini terjadi karena adanya sentuhan asam dioksikholik
secara langsung pada permukaan mukosa usus. Diduga bakteri mikroflora usus
turut memegang peranan dalam pembentukan asam dioksi kholik tersebut.
Hormon-hormon saluran cerna diduga juga dapat mempengaruhi absorpsi air pada
mukosa. usus manusia, antara lain adalah: gastrin, sekretin, kholesistokinin
dan glukogen. Suatu perubahan PH cairan usus juga. dapat menyebabkan terjadinya
diare, seperti terjadi pada Sindroma
Zollinger Ellison atau pada Jejunitis.
2. Kelainan cepat laju bolus makanan didalam lumen usus
(invasive diarrhea)
Suatu proses
absorpsi dapat berlangsung sempurna dan normal bila bolus makanan tercampur
baik dengan enzim-enzim saluran cerna dan. berada dalam keadaan yang cukup
tercerna. Juga. waktu sentuhan yang adekuat antara khim dan permukaan mukosa
usus halus diperlukan untuk absorpsi yang normal. Permukaan mukosa usus halus
kemampuannya berfungsi sangat kompensatif, ini terbukti pada penderita yang
masih dapat hidup setelah reseksi usus, walaupun waktu lintas menjadi sangat
singkat. Motilitas usus merupakan faktor yang berperanan penting dalam
ketahanan local mukosa usus. Hipomotilitas dan stasis dapat menyebabkan mikro
organisme berkembang biak secara berlebihan (tumbuh lampau atau overgrowth) yang kemudian dapat
merusak mukosa usus, menimbulkan gangguan digesti dan absorpsi, yang kemudian
menimbulkan diare. Hipermotilitas dapat terjadi karena rangsangan hormon
prostaglandin, gastrin, pankreosimin; dalam hal ini dapat memberikan efek
langsung sebagai diare. Selain itu hipermotilitas juga dapat terjadi karena
pengaruh enterotoksin staphilococcus maupun
kholera atau karena ulkus mikro yang invasif o1eh Shigella atau Salmonella.Selain
uraian di atas haruslah diingat bahwa hubungan antara aktivitas otot polos
usus,gerakan isi lumen usus dan absorpsi mukosa usus merupakan suatu mekanisme
yang sangat kompleks.
3. Kelainan tekanan osmotik dalam lumen usus (virus).
Dalam
beberapa keadaan tertentu setiap pembebanan usus yang melebihi kapasitas dari
pencernaan dan absorpsinya akan menimbulkan diare. Adanya malabsorpsi dari
hidrat arang, lemak dan zat putih telur akan menimbulkan kenaikan daya tekanan
osmotik intra luminal, sehingga akan dapat menimbulkan gangguan absorpsi air.
Malabsorpsi hidrat arang pada umumnya sebagai malabsorpsi laktosa yang terjadi
karena defesiensi enzim laktase. Dalam hal ini laktosa yang terdapat dalam susu
tidak sempurna mengalami hidrolisis dan kurang di absorpsi oleh usus halus.
Kemudian bakteri-bakteri dalam usus besar memecah laktosa menjadi monosakharida
dan fermentasi seterusnya menjadi gugusan asam organik dengan rantai atom
karbon yang lebih pendek yang terdiri atas 2-4 atom karbon. Molekul-molekul
inilah yang secara aktif dapat menahan air dalam lumen kolon hingga terjadi
diare. Defisiensi laktase sekunder atau dalam pengertian yang lebih luas
sebagai defisiensi disakharidase (meliputi sukrase, maltase, isomaltase dan
trehalase) dapat terjadi pada setiap kelainan pada mukosa usus halus. Hal
tersebut dapat terjadi karena enzim-enzim tadi terdapat pada brush border epitel mukosa usus.
Asam-asam lemak berantai panjang tidak dapat menyebabkan tingginya tekanan
osmotik dalam lumen usus karena asam ini tidak larut dalam air..
F. KLASIFIKASI
1.
Menurut Simadibrata (2006), diare dapat diklasifikasikan berdasarkan :
a.
Lama waktu diare
1)
Diare akut
yaitu diare yang berlangsung kurang
dari 15 hari. Sedangkan menurut World Gastroenterology Organization Global
Guidelines (2005) diare akut didefinisikan sebagai pasase tinja yang cair
atau lembek dengan jumlah lebih banyak dari normal, berlangsung kurang dari 14
hari. Diare akut biasanya sembuh sendiri, lamanya sakit kurang dari 14 hari,
dan akan mereda tanpa terapi yang spesifik jika dehidrasi tidak terjadi (Wong,
2009).
2)
Diare kronik adalah diare yang berlangsung lebih dari 15 hari.
b.
Mekanisme patofisiologik
1) Osmolalitas intraluminal
yang meninggi atau sekretorik.
2) Sekresi cairan dan
elektrolit meninggi.
3) Malabsorbsi asam
empedu.
4) Defek sistem
pertukaran anion
5) Motilitas dan waktu
transport usus abnormal.
6) Gangguan
permeabilitas usus.
7) Inflamasi dinding
usus, disebut diare inflamatorik.
8) Infeksi dinding usus,
disebut diare infeksi.
c.
Penyakit infektif atau non-infektif.
d.
Penyakit organik atau fungsional
2.
Menurut WHO (2005) diare dapat diklasifikasikan kepada:
a. Diare akut, yaitu diare yang
berlangsung kurang dari 14 hari.
b. Disentri, yaitu diare yang
disertai dengan darah.
c. Diare persisten, yaitu diare yang berlangsung
>14 hari.
d. Diare yang disertai dengan
malnutrisi berat
3.
Menurut Ahlquist dan Camilleri (2005), diare dibagi menjadi
a. Akut
Apabila kurang dari 2 minggu, persisten jika berlangsung selama 2-4
minggu. Lebih dari 90% penyebab diare akut adalah agen penyebab infeksi dan
akan disertai dengan muntah, demam dan nyeri pada abdomen. 10% lagi disebabkan
oleh pengobatan, intoksikasi, iskemia dan kondisi lain.
b. Kronik
Jika berlangsung lebih dari 4 minggu. Berbeda dengan diare akut, penyebab
diare yang kronik lazim disebabkan oleh penyebab non infeksi seperti allergi dan
lain-lain.
4. Menurut Kliegman, Marcdante dan Jenson
(2006), dinyatakan bahwa berdasarkan banyaknya kehilangan cairan dan elektrolit
dari tubuh, diare dapat dibagi menjadi :
a. Diare tanpa dehidrasi
Pada tingkat diare ini penderita
tidak mengalami dehidrasi karena frekuensi diare masih dalam batas toleransi
dan belum ada tanda-tanda dehidrasi.
b. Diare dengan dehidrasi ringan
(3%-5%)
Pada tingkat diare ini penderita
mengalami diare 3 kali atau lebih, kadang-kadang muntah, terasa haus, kencing sudah
mulai berkurang, nafsu makan menurun, aktifitas sudah mulai menurun, tekanan
nadi masih normal atau takikardia yang minimum dan pemeriksaan fisik dalam
batas normal.
c. Diare dengan dehidrasi sedang (5%-10%)
Pada keadaan ini, penderita akan
mengalami takikardi, kencing yang kurang atau langsung tidak ada, irritabilitas
atau lesu, mata dan ubun-ubun besar menjadi cekung, turgor kulit berkurang,
selaput lendir bibir dan mulut serta kulit tampak kering, air mata berkurang
dan masa pengisian kapiler memanjang (≥ 2 detik) dengan kulit yang dingin yang
dingin dan pucat.
d. Diare dengan dehidrasi berat (10%-15%)
Pada
keadaan ini, penderita sudah banyak kehilangan cairan dari tubuh dan biasanya
pada keadaan ini penderita mengalami takikardi dengan pulsasi yang melemah,
hipotensi dan tekanan nadi yang menyebar, tidak ada penghasilan urin, mata dan
ubun-ubun besar menjadi sangat cekung, tidak ada produksi air mata, tidak mampu
minum dan keadaannya mulai apatis, kesadarannya menurun dan juga masa pengisian
kapiler sangat memanjang (≥ 3 detik) dengan kulit yang dingin dan pucat.
G. PEMERIKSAAN PENUNJANG
a.
Pemeriksaan tinja.
b. Pemeriksaan gangguan keseimbangan asam basa dalam
darah astrup, bila memungkinkan dengan menentukan PH keseimbangan analisa gas
darah atau astrup, bila memungkinkan.
c. Pemeriksaan kadar ureum dan creatinin untuk mengetahui
fungsi ginjal.
d. Pemeriksaan elektrolit intubasi duodenum untuk
mengetahui jasad renik atau parasit secara kuantitatif, terutama dilakukan pada
klien diare kronik.
Pemeriksaan Fisik
1. Tanda-tanda vital
Suhu badan :
mengalami peningkatan
Nadi : cepat dan lemah
Pernafasan : frekuensi nafas meningkat
Tekanan darah : menurun
Nadi : cepat dan lemah
Pernafasan : frekuensi nafas meningkat
Tekanan darah : menurun
2.
Antropometri
Pemeriksaan antropometri meliputi berat badan, tinggi badan, lingkar kepala, lingkar lengan, dan lingkar perut. Pada anak dengan diare mengalami penurunan berat badan.
Pemeriksaan antropometri meliputi berat badan, tinggi badan, lingkar kepala, lingkar lengan, dan lingkar perut. Pada anak dengan diare mengalami penurunan berat badan.
3.
Pernafasan
Biasanya pernapasan agak cepat, bentuk dada normal, dan tidak ditemukan bunyi nafas tambahan.
Biasanya pernapasan agak cepat, bentuk dada normal, dan tidak ditemukan bunyi nafas tambahan.
4.
Cardiovasculer
Biasanya tidak ditemukan adanya kelainan, denyut nadi cepat dan lemah.
Biasanya tidak ditemukan adanya kelainan, denyut nadi cepat dan lemah.
5.
Pencernaan
Ditemukan gejala mual dan muntah, mukosa bibir dan mulut kering, peristaltik usus meningkat, anoreksia, BAB lebih 3 x dengan konsistensi encer
Ditemukan gejala mual dan muntah, mukosa bibir dan mulut kering, peristaltik usus meningkat, anoreksia, BAB lebih 3 x dengan konsistensi encer
6.
Perkemihan
Volume diuresis menurun.
Volume diuresis menurun.
7.
Muskuloskeletal
Kelemahan fisik akibat output yang berlebihan.
Kelemahan fisik akibat output yang berlebihan.
8.
Integumen
lecet pada sekitar anus, kulit teraba hangat, turgor kulit jelek
lecet pada sekitar anus, kulit teraba hangat, turgor kulit jelek
9.
Endokrin
Tidak ditemukan adanya kelaianan.
Tidak ditemukan adanya kelaianan.
10.
Penginderaan
Mata cekung, Hidung, telinga tidak ada kelainan
Mata cekung, Hidung, telinga tidak ada kelainan
11.
Reproduksi
Tidak mengalami kelainan.
Tidak mengalami kelainan.
12.
Neorologis
Dapat terjadi penurunan kesadaran.
Dapat terjadi penurunan kesadaran.
H. PENATALAKSANAAN
Penanggulangan
kekurangan cairan merupakan tindakan pertama dalam mengatasi pasien diare. Hal
sederhana seperti meminumkan banyak air putih atau oral rehidration solution
(ORS) seperti oralit harus cepat dilakukan. Pemberian ini segera apabila gejala
diare sudah mulai timbul dan kita dapat melakukannya sendiri di rumah.
Kesalahan yang sering terjadi adalah pemberian ORS baru dilakukan setelah
gejala dehidrasi nampak.
Pada
penderita diare yang disertai muntah, pemberian larutan elektrolit secara
intravena merupakan pilihan utama untuk mengganti cairan tubuh, atau dengan
kata lain perlu diinfus. Masalah dapat timbul karena ada sebagian masyarakat
yang enggan untuk merawat-inapkan penderita, dengan berbagai alasan, mulai dari
biaya, kesulitam dalam menjaga, takut bertambah parah setelah masuk rumah
sakit, dan lain-lain. Pertimbangan yang banyak ini menyebabkan respon time
untuk mengatasi masalah diare semakin lama, dan semakin cepat penurunan kondisi
pasien kearah yang fatal.
Diare karena
virus biasanya tidak memerlukan pengobatan lain selain ORS. Apabila kondisi
stabil, maka pasien dapat sembuh sebab infeksi virus penyebab diare dapat
diatasi sendiri oleh tubuh (self-limited disease).
Diare karena
infeksi bakteri dan parasit seperti Salmonella sp, Giardia lamblia, Entamoeba
coli perlu mendapatkan terapi antibiotik yang rasional, artinya antibiotik yang
diberikan dapat membasmi kuman.
Oleh karena
penyebab diare terbanyak adalah virus yang tidak memerlukan antibiotik, maka
pengenalan gejala dan pemeriksaan laboratorius perlu dilakukan untuk menentukan
penyebab pasti. Pada kasus diare akut dan parah, pengobatan suportif
didahulukan dan terkadang tidak membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut kalau
kondisi sudah membaik.
I. KOMPLIKASI
a. Dehidrasi (ringan, sedang, berat, hipotonik, isotonik/
hipertonik)
b. Renjatan hipovolemik
c. Hipokalemia/ dengan gejala meteorismus, hipotoni otot,
lemah, takikardia,perubahan EKG
d. Hipoglikemia
e. Intoleransi sekunder akibat kerusakan vili mukosa usus
dan defisiensi enzim laktosa
f. Kejang, pada dehidrasi hipertonik
g. Malnutrisi energi protein (muntah dan mual bila lama/
kronik)
J. PENCEGAHAN
a. Mencuci tangan. Anak harus diajarkan untuk mencuci
tangannya, sedangkan pada bayi sering dilap tangannya. Bunda pun juga harus
sering mencuci tangan, terutama saat memberi makan pada anak dan setelah
memegang sesuatu yang kotor seperti setelah membersihkan kotoran bayi atau
anak.
b.
Tutup makanan dengan tudung saji.
c.
Masak air minum dan makanan hingga matang.
d. Jaga kebersihan makanan dan minuman, berikan ASI
eksklusif minimal 6 bulan karena ASI mengandung immunoglobulin. Untuk bayi yang
"terpaksa" menggunakan susu formula, maka dotnya harus dicuci
bersih dan disterilkan dengan baik.
K. CARA PENULARAN
1. Penularan
secara langsung : Penyakit diare dapat ditularkan dari orang satu ke orang
lain secara langsung melalui fecal – oral dengan media penularan utama adalah
makanan atau minuman yang terkontaminasi agen penyebab diare (Suharyono, 1991).
Penderita diare berat akan mengeluarkan kuman melalui tinja, jika pembuangan
tinja tidak dilakukan pada jamban tertutup, maka akan berpotensi sebagai sumber
penularan.
2. Penularan
secara tidak langsung : Penyakit diare dapat juga ditularkan secara tidak
langsung melalui air. Air yang tercemar kuman, bila digunakan orang untuk
keperluan sehari-hari tanpa direbus atau dimasak terlebih dahulu, maka kuman
akan masuk ke tubuh orang yang memakainya, sehingga orang tersebut dapat
terkena diare.
3.
ASUHAN KEPERAWATAN
a. Pengkajian
1. Identitas
Perlu diperhatikan adalah usia. Episode diare terjadi pada 2 tahun pertama
kehidupan. Insiden paling tinggi adalah golongan umur 6-11 bulan. Kebanyakan
kuman usus merangsang kekebalan terhadap infeksi, hal ini membantu menjelaskan
penurunan insidence penyakit pada anak yang lebih besar. Pada umur 2 tahun atau
lebih imunitas aktif mulai terbentuk. Kebanyakan kasus karena infeksi
usus asimptomatik dan kuman enteric menyebar terutama klien tidak menyadari
adanya infeksi. Status ekonomi juga berpengaruh terutama dilihat
dari pola makan dan perawatannya .
2. Keluhan Utama
BAB lebih
dari 3 x, muntah, diare, kembung, demam.
3. Riwayat Penyakit Sekarang
BAB warna
kuning kehijauan, bercamour lendir dan darah atau lendir saja. Konsistensi
encer, frekuensi lebih dari 3 kali, waktu pengeluaran : 3-5 hari (diare akut),
lebih dari 7 hari ( diare berkepanjangan), lebih dari 14 hari (diare kronis).
4. Riwayat Penyakit Dahulu
Pernah
mengalami diare sebelumnya, pemakian antibiotik atau kortikosteroid jangka
panjang (perubahan candida albicans dari saprofit menjadi parasit), alergi
makanan, ISPA, ISK, OMA campak.
5. Riwayat Nutrisi
Pada anak
usia toddler makanan yang diberikan seperti pada orang dewasa, porsi yang
diberikan 3 kali setiap hari dengan tambahan buah dan susu. kekurangan gizi
pada anak usia toddler sangat rentan,. Cara pengelolahan makanan yang baik,
menjaga kebersihan dan sanitasi makanan, kebiasan cuci tangan.
6. Riwayat Kesehatan Keluarga
Ada salah satu keluarga yang mengalami diare.
7. Riwayat Kesehatan Lingkungan
Penyimpanan
makanan pada suhu kamar, kurang menjaga kebersihan, lingkungan tempat tinggal.
8. Pemeriksaan Fisik
a. pengukuran panjang badan, berat badan menurun,
lingkar lengan mengecil, lingkar kepala, lingkar abdomen membesar,
b. keadaan umum : klien lemah, gelisah, rewel, lesu,
kesadaran menurun.
c. Kepala : ubun-ubun tak teraba cekung karena sudah
menutup pada anak umur 1 tahun lebih
d. Mata : cekung, kering, sangat cekung
e. Sistem pencernaan : mukosa mulut kering, distensi
abdomen, peristaltic meningkat > 35 x/mnt, nafsu makan menurun, mual muntah,
minum normal atau tidak haus, minum lahap dan kelihatan haus, minum sedikit
atau kelihatan bisa minum
f. Sistem Pernafasan : dispnea, pernafasan cepat >
40 x/mnt karena asidosis metabolic (kontraksi otot pernafasan)
g. Sistem kardiovaskuler : nadi cepat > 120 x/mnt
dan lemah, tensi menurun pada diare sedang .
h. Sistem integumen : warna kulit pucat, turgor
menurun > 2 dt, suhu meningkat > 375 0 c, akral hangat, akral dingin
(waspada syok), capillary refill time memajang > 2 dt, kemerahan pada daerah
perianal.
i. Sistem perkemihan : urin produksi oliguria sampai
anuria (200-400 ml/ 24 jam ), frekuensi berkurang dari sebelum sakit.
j. Dampak hospitalisasi : semua anak sakit yang MRS
bisa mengalami stress yang berupa perpisahan, kehilangan waktu bermain,
terhadap tindakan invasive respon yang ditunjukan adalah protes, putus asa, dan
kemudian menerima.
b. Pola Fungsi Kesehatan
a. Pola persepsi dan pemeliharaan kesehatan : kebiasaan
bab di wc / jamban / sungai / kebun, personal hygiene ?, sanitasi ?,
sumber air minum ?
b. Pola nutrisi dan metabolisme : anoreksia, mual,
muntah, makanan / minuman terakhir yang dimakan, makan makanan yang tidak biasa
/ belum pernah dimakan, alergi, minum ASI atau susu formula, baru saja ganti
susu, salah makan, makan berlebihan, efek samping obat, jumlah cairan
yang masuk selama diare, makan / minum di warung ?
c.
Pola eleminasi
a.
Bab : frekuensi, warna, konsistensi,
bau, lendir, darah
b.
Bak : frekuensi, warna, bak 6 jam
terakhir ?, oliguria, anuria
d.
Pola aktifitas dan latihan :
travelling
e.
Pola tidur dan istirahat
f.
Pola kognitif dan perceptual
g.
Pola toleransi dan koping stress
h.
Pola nilai dan keyakinan
i.
Pola hubungan dan peran
j.
Pola persepsi diri dan konsep diri
k. Pola seksual dan reproduksi
c.
Diagnosa Keperawatan
1. Diare b.d factor psikologis (tingkat stress dan cemas
tinggi), faktor situasional ( keracunan, penyalahgunaan laksatif,
pemberian makanan melalui selang efek samping obat, kontaminasi, traveling),
factor fisiologis (inflamasi, malabsorbsi, proses infeksi, iritas, parasit)
2. Hipertermi b.d peningkatan metabolic, dehidrasi, proses
infeksi, medikasi
3. Kekurangan volume cairan b.d kehilangan volume cairan aktif, kegagalan
dalam mekanisme pengaturan.
4. PK : Syok hipovolemik b.d dehidrasi
5. Takut b.d tindakan inva-sif, hospitalisasi, penga-laman lingkungan yang
kurang bersahabat.
6. Cemas orang tua b.d perkembangan penyakit anaknya (diare, muntah,
panas, kembung).
7. Kurang pengetahuan tentang penyakit diare b.d kurang informasi,
keterbatasan kognisi, tidak familiar dengan sumber informasi
8. Pola nafas tidak efektif b.d hiperventilasi
9. Intoleransi aktivitas b.d ketidakseimbangan antara kebutuhan dan suplai
oksigen
d. Intervensi
|
NO
|
DIAGNOSA
KEP
|
NOC /
TUJUAN
|
NIC /
INTERVENSI
|
|
1.
|
Diare
b.d faktor psiko-logis (stress, cemas), faktor situasional (kera-cunan,
kontaminasi, pem-berian makanan melalui selang, penyalahgunaan laksatif, efek
samping obat, travelling, malab-sorbsi, proses infeksi, parasit, iritasi)
Batasan karakteristik :
Bab > 3 x/hari
- Konsistensi encer / cair
- Suara usus hiperaktif
- Nyeri perut
- Kram
|
Setelah
dilakukan tindakan perawatan selama … X 24 jam pasien tidak me-ngalami diare
/ diare berkurang, dengan kriteria :
Bowel Elemination (0501)
- Frekuensi bab
normal < 3 kali / hari
- Konsistensi feses
normal (lunak dan berbentuk)
- Gerakan usus tidak me-ningkat (terjadi
tiap 10 -30 detik)
- Warna feses normal
- Tidak ada lendir, darah
- Tidak ada nyeri
- Tidak ada diare
- Tidak ada kram
- Peristaltic tidak tampak
- Bau fese normal (tidak amis, bau busuk)
|
Manajemen Diare (0460)
1. Identifikasi faktor yang mungkin me-nyebabkan diare (bakteri, obat,
makanan, selang makanan, dll )
2. Evaluasi efek samping obat
3. Ajari pasien menggunakan obat diare dengan tepat (smekta diberikan
1-2 jam setelah minum obat yang lain)
4. Anjurkan pasien / keluarga untuk men-catat warna, volume, frekuensi, bau,
konsistensi feses.
5. Dorong klien makan sedikit tapi sering (tambah secara bertahap)
6. Anjurkan klien menghindari makanan yang berbumbu dan menghasilkan gas.
7. Sarankan klien untuk menghindari ma-kanan yang banyak mengandung laktosa.
8. Monitor tanda dan gejala diare
9. Anjurkan klien untuk menghubungi pe-tugas setiap episode diare
10. Observasi
turgor kulit secara teratur
11. Monitor
area kulit di daerah perianal dari iritasi dan ulserasi
12. Ukur diare
/ keluaran isi usus
13. Timbang
Berat Badan secara teratur
14. Konsultasikan
dokter jika tanda dan gejala diare menetap.
15. Kolaborasi
dokter jika ada peningkatan suara usus
16Anjurkan
diet rendah serat
18. Anjurkan
untuk menghindari laksatif
19. Ajari
klien / keluarga bagaimana meme-lihara catatan makanan
20. Ajari
klien teknik mengurangi stress
21. Monitor
keamanan preparat makanan
Manajemen Nutrisi (1100)
1. Hindari makanan yang membuat alergi
2. Hindari makanan yang tidak bisa di-toleransi oleh klien
3. Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan kebutuhan kalori dan jenis
makanan yang dibutuhkan
4. Berikan makanan secara selektif
5. Berikan buah segar (pisang) atau jus buah
6. Berikan informasi tentang kebutuhan nutrisi yang dibutuhkan kien
dan ba-gaimana cara makannya
Bowel Incontinence Care (0410)
1. Tentukan faktor fisik atau psikis yang menyebabkan diare.
2. Terangkan penyebab masalah dan alasan dilakukan tindakan.
3. Diskusikan prosedur dan hasil yang diharapkan dengan klien / keluarga
4. Anjurkan klien / keluarga untuk mencatat keluaran feses
5. Cuci area perianal dengan sabun dan air dan keringkan setiap setelah
habis bab
6. Gunakan cream di area perianal
7. Jaga tempat tidur selalu bersih dan kering
Perawatan Perineal (1750)
1. Bersihkan secara teratur dengan teknik aseptik
2. Jaga daerah perineum selalu kering
3. Pertahankan klien pada posisi yang nyaman
4. Berikan obat anti nyeri / inflamasi dengan tepat
|
|
2.
|
Hipertermi
b.d dehidrasi, peningkatan metabolik, inflamasi usus
Batasan
karakteristik :
- Suhu tubuh > normal
- Kejang
- Takikardi
- Respirasi meningkat
- Diraba hangat
- Kulit memerah
|
Setelah
dilakukan tindakan perawatan selama … X 24 jam suhu badan klien normal,
dengan criteria :
Termoregulasi (0800)
- Suhu kulit normal
- Suhu badan 35,9˚C- 37,3˚C
- Tidak ada sakit kepala
- Tidak ada nyeri otot
- Tidak ada perubahan war-na kulit
- Nadi, respirasi dalam ba-tas normal
- Hidrasi adekuat
- Pasien menyatakan
nya-man
- Tidak menggigil
- Tidak iritabel / kejang
|
Pengaturan Panas (3900)
1. Monitor suhu sesuai kebutuhan
2. Monitor tekanan darah, nadi dan respirasi
3. Monitor suhu dan warna kulit
4. Monitor dan laporkan tanda dan gejala hipertermi
5. Anjurkan intake cairan dan nutrisi yang adekuat
6. Ajarkan klien bagaimana mencegah panas yang tinggi
7. Berikan obat antipiretik
8. Berikan obat untuk mencegah atau mengontrol menggigil
Pengobatan Panas (3740)
1. Monitor suhu sesuai kebutuhan
2. Monitor IWL
3. Monitor suhu dan warna kulit
4. Monitor tekanan darah, nadi dan respirasi
5. Monitor derajat penurunan kesadaran
6. Monitor kemampuan aktivitas
7. Monitor leukosit, hematokrit
8. Monitor intake dan output
9. Monitor adanya aritmia jantung
10. Dorong
peningkatan intake cairan
11. Berikan
cairan intravena
12. Tingkatkan
sirkulasi udara dengan kipas angin
13. Dorong
atau lakukan oral hygiene
14. Berikan
obat antipiretik untuk mencegah pasien menggigil / kejang
15. Berikan
obat antibiotic untuk mengobati penyebab demam
16. Berikan
oksigen
17. Kompres
dingin diselangkangan, dahi dan aksila bila suhu badan 39˚C atau lebih
18. Kompres
hangat diselangkangan, dahi dan aksila bila suhu badan < 39˚C
19. Anjurkan
klien untuk tidak memakai selimut
20. Anjurkan
klien memakai baju berbahan dingin, tipis dan menyerap keringat
Manajemen Lingkungan (6480)
1. Berikan ruangan sendiri sesuai indikasi
2. Berikan tempat tidur dan kain / linen yang bersih dan nyaman
3. Batasi pengunjung
Mengontrol Infeksi (6540)
1. Anjurkan klien untuk mencuci tangan sebelum makan
2. Gunakan
sabun untuk mencuci tangan
3. Cuci tangan sebelum dan sesudah melakukan kegiatan perawatan
4. Ganti tempat infuse dan bersihkan sesuai dengan SOP
5. Berikan perawatan kulit di area yang odem
6. Dorong klien untuk cukup istirahat
7. Lakukan pemasangan infus dengan teknik aseptik
8.
|
|
3.
|
Kekurangan
volume ca-iran b.d intake kurang, kehilangan volume cairan aktif,
kegagalan dalam mekanisme pengaturan
Batasan karakteristik :
Kelemahan
- Haus
- Penurunan turgor kulit
- Membran mucus / kulit kering
- Nadi meningkat, te-kanan darah menu-run,
tekanan nadi menurun
- Penurunan pengisian kapiler
- Perubahan status mental
- Penurunan urin out-put
- Peningkatan konsen-trasi urin
- Peningkatan suhu tubuh
- Hematokrit mening-kat
- Kehilangan berat ba-dan mendadak.
|
Setelah
dilakukan tindakan perawatan selama … X 24 jam kebutuhan cairan
dan elektrolit adekuat, dengan kriteria :
Hidrasi (0602)
- Hidrasi kulit adekuat
- Tekanan darah dalam ba-tas normal
- Nadi teraba
- Membran mukosa lembab
- Turgor kulit normal
- Berat badan stabil dan dalam batas normal
- Kelopak mata tidak ce-kung
- Fontanela tidak cekung
- Urin output normal
- Tidak demam
- Tidak ada rasa haus yang sangat
- Tidak ada napas pendek / kusmaul
Balance Cairan (0601)
- Tekanan darah normal
- Nadi perifer teraba
- Tidak terjadi ortostatik
hypotension
- Intake-output seimbang dalam
24 jam
- Serum, elektrolit dalam
batas normal.
- Hmt dalam batas normal
- Tidak ada suara napas
tambahan
- BB stabil
- Tidak ada asites, edema perifer
- Tidak ada distensi vena leher
- Mata tidak cekung
- Tidak bingung
- Rasa haus tidak berlebih-an
- Membrane mukosa lem-bab
- Hidrasi kulit adekuat
|
M Monitor Cairan
(4130)
1. Tentukan riwayat jenis dan banyaknya intake cairan dan kebiasaan
eleminasi
2. Tentukan faktor resiko yang menyebabkan ketidakseimbangan cairan
(hipertermi, diu-retik, kelainan ginjal, muntah, poliuri, diare, diaporesis,
terpapar panas, infeksi)
3. Menimbang BB secara teratur
4. Monitor vital sign
5. Monitor intake dan output
6. Periksa serum, elektrolit dan membatasi cairan bila diperlukan
7. Jaga keakuratan catatan intake dan output
8. Monitor membrane mukosa, turgor kulit dan rasa haus
9. Monitor warna dan jumlah urin
10. Monitor
distensi vena leher, krakles, odem perifer dan peningkatan berat badan.
11. Monitor
akses intravena
12. Monitor
tanda dan gejala asites
13. Catat
adanya vertigo
14. Pertahankan
aliran infuse sesua advis dokter
Manajemen Cairan (4120)
1. Timbang berat badan dan monitor ke-cenderungannya.
2. Timbang popok
3. Pertahankan keakuratan catatan intake dan output
4. Pasang kateter bila perlu
5. Monitor status hidrasi (kelembaban membrane mukosa, denyut nadi, tekanan
darah)
6. Monitor vital sign
7. Monitor tanda-tanda overhidrasi / ke-lebihan cairan (krakles, edema
perifer, distensi vena leher, asites, edema pulmo)
8. Berikan cairan intravena
9. Monitor status nutrisi
10. Berikan
intake oral selama 24 jam
11. Berikan
cairan dengan selang (NGT) bila perlu
12. Monitor
respon pasien terhadap terapi elektrolit
13. Kolaborasi
dokter jika ada tanda dan gejala kelebihan cairan
Manajemen Hipovolemia (4180)
1. Monitor status cairan intake dan output
2. Pertahankan patensi akses intravena
3. Monitor Hb dan Hct
4. Monitor kehilangan cairan (muntah dan diare)
5. Monitor tanda vital
9. Monitor IWL (misalnya : diaporesis)
10. Anjurkan
klien untuk menghindari meng-ubah posisi dengan cepat, dari tidur ke
duduk atau berdiri
11. Monitor
berat badan secara teratur
12. Monitor
tanda-tanda
13. Dorong
intake oral
14. Pertahankan
aliran infus
15. Posisi
pasien Trendelenburg / kaki elevasi lebih tinggi dari kepala ketika hipotensi
jika perlu
Monitoring Elektrolit (2020)
1. Monitor elektrolit serum
2. Kolaborasi dokter jika ada ketidak-seimbangan elektrolit
3. Monitor tanda dan gejala ketidak-seimbangan elektrolit (kejang, kram
perut, tremor, mual dan muntah, letargi, cemas, bingung, disorientasi, kram
otot, nyeri tulang, depresi pernapasan, gangguan ira-ma jantung,
penurunan kesadaran : apa-tis, coma)
Manajemen Elektrolit (2000)
1. Pertahankan cairan infuse yang me-ngandung elektrolit
3. Bilas NGT dengan normal salin
4. Berikan diet makanan yang kaya kalium
5. Berikan lingkungan yang aman bagi klien yang mengalami gangguan
neurologis atau neuromuskuler
7. Kolaborasi dokter bila tanda dan gejala ketidakseimbangan elektrolit
menetap.
|
|
4.
|
PK:
Syok hipovolemia b.d dehidrasi
|
Setelah
dilakukan tindak-an / penanganan selama 1 jam
diharapkan klien mempunyai perfusi yang adekuat, dengan criteria :
Kriteria
hasil :
- Amplitudo nadi perifer
meningkat
- Pengisian kapiler singkat (< 2
detik)
- Tekanan darah dalam rentang normal
- CVP > atau = 5 cm H2O
- Frekuensi jantung teratur
- Berorientasi terhadap waktu,
tempat, dan orang
- Keluaran urin > atau = 30 ml/jam
- Akral hangat
- Nadi teraba
- Membran mukosa lembab
- Turgor kulit normal
- Berat badan stabil dan dalam batas normal
- Kelopak mata tidak cekung
- Tidak demam
- Tidak ada rasa haus yang sangat
- Tidak ada napas pen-dek /kusmaul
|
1. Kaji dan catat status perfusi perifer. Laporkan temuan bermakna :
ekstremitas dingin dan pucat, penurunan amplitude nadi, pengisian kapiler
lambat.
2. Pantau tekanan darah pada interval sering ; waspadai pada pembacaan lebih
dari 20 mmHg di bawah rentang normal klien atau indicator lain dari hipotensi
: pusing, perubahan mental, keluaran urin menurun.
3. Bila hipotensi terjadi, tempatkan klien pada posisi telentang untuk
meningkatkan aliran balik vena. Ingat bahwa tekanan darah > atau = 80/60
mmHg untuk perfusi koroner dan arteri ginjal yang adekuat.
4. Pantau CVp (bila jalur dipasang) untuk menentukan keadekuatan aliran
balik vena dan volume darah; 5-10 cm H2O biasanya dianggap rentang yang
adekuat. Nilai mendekati 0 menunjukkan hipovolemia, khususnya bila terkait
dengan keluaran urin menurun, vasokonstriksi, dan peningkatan frekuensi
jantung yang ditemukan pada hipovolemia.
5. Observasi terhadap indicator perfusi serebral menurun : gelisah, konfusi,
penurunan tingkat kesadaran. Bila indicator positif terjadi, lindungi klien
dari cidera dengan meninggikan pengaman tempat tidur dan menempatkan tempat
tidur pada posisi paling rendah. Reorientasikan klien sesuai indikasi.
6. Pantau terhadap indicator perfusi arteri koroner menurun : nyeri dada,
frekuensi jantung tidak teratur.
7. Pantau hasil laboratorium terhadap BUN (>20 mg/dl) dan kreatinin
(>1,5 mg/dl) meninggi ; laporkan peningkatan.
8. Pantau nilai elektrolit terhadap bukti ketidak seimbangan , terutama
Natrium (>147 mEq/L) dan Kalium (>5 mEq/L). Waspadai tanda hiperkalemia
: kelemahan otot, hiporefleksia, frekuensi jantung tidak teratur. Juga pantau
tanda hipernatremia, retensi cairan dan edema.
9
|
|
5
|
Takut
b.d tindakan inva-sif, hospitalisasi, penga-laman lingkungan yang kurang
bersahabat. (00148)
Batasan
karakteristik :
- Panik
- Teror
- Perilaku menghindar atau menyerang
- Impulsif
- Nadi, respirasi, TD sistolik
meningkat
- Anoreksia
- Mual, muntah
- Pucat
- Stimulus sebagai an-caman
- Lelah
- Otot tegang
- Keringat meningkat
- Gempar
- Ketegangan mening-kat
- Menyatakan takut
- Menangis
- Protes
- Melarikan diri
|
Setelah
dilakukan tindak-an keperawatan selama … X 24 jam rasa takut klien berkurang,
dengan criteria :
Fear control (1404) :
- Klien tidak menyerang atau menghindari
sumber yang menakutkan
- Klien menggunakan tek-nik relaksasi untuk
me-ngurangi takut
- Klien mampu mengontrol respon takut
- Klien tidak melarikan diri
- Durasi takut menurun
- Klien kooperatif saat di-lakukan perawatan dan
pengobatan
Anxiety control (1402)
- Tidur pasien adekuat
- Tidak ada manifestasi fisik
- Tidak ada manifestasi perilaku
- Klien mau berinteraksi sosial
|
Coping enhancement (5230)
1. Kaji respon takut pasien : data objektif dan subyektif
2. Jelaskan klien / keluarga tentang proses penyakit
3. Terangkan klien / keluarga tentang semua pemeriksaan dan pengobatan
4. Sampaikan sikap empati (diam, memberikan sen-tuhan, mengijinkan
mena-ngis, berbicara dll)
5. Dorong orang tua untuk selalu menemani anak
6. Berikan pilihan yang realistis tentang aspek perawatan
7. Dorong
klien untuk melakukan aktifitas sosial dan komunitas
8. Dorong
penggunaan sumber spiritual
Anxiety Reduction (5820)
1. Jelaskan semua prosedur termasuk perasaan yang mungkin dialami selama
menjalani prosedur
2. Berikan objek yang memberikan rasa aman
3. Berbicara dengan pelan dan tenang
4. Membina hubungan saling percaya
5. Jaga peralatan pengobatan di luar penglihatan klien
6. Dengarkan klien dengan penuh perhatian
7. Dorong
klien mengungkapkan perasaan, persepsi dan takut secara verbal
8. Berikan aktivitas / peralatan yang meng-hibur untuk mengurangi ketegangan
9. Anjurkan klien menggunakan teknik relaksasi
10.Anjurkan
orang tua untuk membawakan mainan kesukaan dari rumah
11.Mengusahakan
untuk tidak mengulang pengambilan darah
12.Libatkan
orang tua dalam perawatan dan pengobatan
13.Berikan
lingkungan yang tenang
14.Batasi
pengunjung
|
|
6.
|
Cemas
orang tua b.d perkembangan penyakit anaknya (diare, muntah, panas,
kembung)
Batasan
karakteristik :
- Orang tua sering
bertanya
- Orang tua
meng-ungkapkan perasaan cemas
- Khawatir
- Kewaspadaan me-ningkat
- Mudah tersinggung
- Gelisah
- Wajah tegang, me-merah
- Kecenderungan me-nyalahkan orang lain
|
Setelah
dilakukan tindakan keperawatan selama … X per-temuan kecemasan orang
tua berkurang, dengan criteria:
Anxiety control (1402)
- Tidur
adekuat
- Tidak ada
manifestasi fisik
- Tidak ada
manifestasi perilaku
- Mencari informasi untuk mengurangi cemas
- Menggunakan teknik re-laksasi untuk
mengurangi cemas
- Berinteraksi sosial
Aggression Control (1401)
- Menghindari kata yang meledak-ledak
- Menghindari perilaku yang merusak
- Mampu mengontrol ung-kapan verbal
Coping (1302)
- Mampu mengidentifikasi pola koping yang efektif
dan tidak efektif
- Mampu mengontrol ver-bal
- Melaporkan stress / ce-masnya berkurang
- Mengungkapkan mene-rima keadaan
- Mencari informasi ber-kaitan dengan penyakit dan
pengobatan
- Memanfaatkan dukungan social
- Melaporkan penurunan stres fisik
- Melaporkan peningkatan kenyamanan psikisnya
- Mengungkapkan membu-tuhkan bantuan
- Melaporkan perasaan ne-gatifnya berkurang
- Menggunakan strategi ko-ping efektif
|
Coping enhancement (5230)
1. Kaji respon cemas orang tua
2. Jelaskan orang tua tentang proses penyakit anaknya
3. Bantu orang tua untuk mengenali penyebab diare.
4. Terangkan orang tua tentang prosedur pemeriksaan dan pengobatan
5. Beritahu dan jelaskan setiap perkem-bangan penyakit anaknya
6. Dorong penggunaan sumber spiritual
Anxiety Reduction (5820)
1 Jelaskan semua prosedur termasuk pera-saan yang mungkin dialami selama
men-jalani prosedur
2 Berikan objek yang dapat memberikan ra-sa aman
3 Berbicara dengan pelan dan tenang
4 Membina hubungan saling percaya
5 Dengarkan dengan penuh perhatian
6 Ciptakan suasana saling percaya
7 Dorong orang tua mengungkapkan pera-saan, persepsi dan cemas secara
verbal
8 Berikan peralatan / aktivitas yang meng-hibur untuk mengurangi
ketegangan
9 Anjurkan untuk menggunakan teknik re-laksasi
10 Berikan
lingkungan yang tenang, batasi pengunjung
|
|
7
|
Kurang
pengetahuan kli-en / orang tua tentang diare b.d kurang informa-si,
keterbatasan kognisi, tak familier dengan sum-ber informasi.
Batasan Karakteristik :
- Mengungkapkan
ma-salah
- Tidak tepat mengiku-ti
perintah
- Tingkah laku yang
berlebihan (histeris, bermusuhan, agitasi, apatis)
|
Setelah
dilakukan penjelasan selama … X pertemuan klien / orang tua mengetahui dan
memahami tentang penya-kitnya, dengan criteria :
Knowledge : Disease Process (1803) :
- Mengetahui
jenis / nama penyakitnya
- Mampu menjelaskan
pro-ses penyakit
- Mampu menjelaskan
fak-tor resiko
- Mampu menjelaskan
efek penyakit
- Mampu menjelaskan
tan-da dan gejala penyakit
- Mampu menjelaskan
komplikasi
- Mampu menjelaskan
ba-gaimana mencegah kom-plikasi
Knowledge : Health be-havors (1805)
- Mampu menjelaskan pola nutisi yang sehat
- Mampu menjelaskan ak-tifitas yang
bermanfaat
- Mampu menjelaskan cara pencegahan diare
- Mampu menjelaskan tek-nik manajemen stress
- Mampu menjelaskan efek zat kimia
- Mampu menjelaskan ba-gaimana mengurangi
re-siko sakit
- Mampu menjelaskan ba-gaimana menghindari
lingkungan yang berba-haya (sanitasi kurang)
- Mampu menjelaskan cara pemakaian obat
sesuai resep
|
Teaching : Disease Process (5602)
1. Berikan penilaian tentang tingkat pengetahuan klien / orang tua tentang
proses penyakitnya
2. Jelaskan patofisiologi diare dan ba-gaimana hal ini berhubungan dengan
ana-tomi dan fisiologi dengan cara yang sesuai.
3. Gambarkan tanda dan gejala yang biasa muncul pada diare dengan cara yang
sesuai
4. Gambarkan proses penyakit diare dengan cara yang sesuai
5. Identifikasi kemungkinan penyebab de-ngan cara yang tepat
6. Bantu klien / orang tua mengenali faktor penyebab diare
7. Berikan informasi upaya-upaya mencegah diare : selalu merebus air minum,
mencuci tangan sebelum makan, tidak makan di sembarang tempat, merebus dot /
botol susu sebelum digunakan, memperhatikan kebersihan lingkungan dll
8. Berikan informasi pada klien / orang tua tentang kondisi / perkembangan
kesehatan dengan tepat
9. Sediakan
informasi tentang pengukuran diagnostik yang tersedia
10.Diskusikan
perubahan gaya hidup yang mungkin diperlukan untuk mencegah komplikasi di
masa yang akan datang dan atau proses pengontrolan penyakit
11.Diskusikan
pilihan terapi atau penanganan
12.Gambarkan
pilihan rasional rekomendasi manajemen terapi / penanganan
13. Dukung
klien/ orang tua untuk meng-eksplorasikan atau mendapatkan second opinion
dengan cara yang tepat
14. Eksplorasi
kemungkinan sumber atau dukungan dengan cara yang tepat
15.Instruksikan
klien / orang tua mengenai tanda dan gejala untuk melaporkan pada pemberi
perawatan
16.Kuatkan informasi
yang disediakan tim kesehatan yang lain dengan cara yang tepat
T Teaching Procedur /
Treatment (5618)
1. Informasikan kepada klien dan orang tua kapan prosedur pengobatan akan
di-laksanakan
2. Informasikan seberapa lama prosedur pengobatan akan dilakukan
3. Informasikan tentang peralatan yang akan digunakan dalam pengobatan
4. Informasikan kepada orang tua siapa yang akan melakukan prosedur
pengobatan
5. Jelaskan tujuan dan alasan dilakukan prosedur pengobatan
6. Anjurkan kepada klien untuk kooperatif saat dilakukan prosedur pengobatan
7. Jelaskan tentang perasaan yang mungkin akan dialami selama dilakukan
prosedur pengobatan
|
|
8.
|
Pola
nafas tidak efektif b.d hiperventilasi
Batasan karakteristik :
- Penurunan tekanan inspirasi / ekspirasi
- Penurunan ventilasi per menit
- Penggunaan otot na-fas tambahan
- Pernafasan nasal fla-ring
- Dispneu
- Ortopneu
- Penyimpangan dada
- Nafas pendek
- Posisi tubuh menun-jukkan posisi 3 poin
- Nafas pursed-lip (de-ngan bibir)
- Ekspirasi memanjang
- Peningkatan diame-ter anterior-posterior
- Frekuensi nafas
Bayi
: < 25 atau > 60
1-4
th : < 20 atau > 30
5-14 th :
< 14 atau > 25
> 14 th
: < 11 atau > 24
- Kedalaman nafas
Volume
tidal de-wasa saat istira-hat 500 ml
Volume
tidal ba-yi 6-8 ml/kg BB
- Penurunan kapasitas vital
- Timing rasio
|
Setelah
dilakukan tindakan perawatan selama … X 24 jam pola nafas efektif,
dengan criteria :
Respiratory status : Airway patency (0410) :
- Suara napas bersih
- Tidak ada sianosis
- Tidak sesak napas
- Irama napas dan frekuensi napas dalam
rentang nor-mal
- Pasien tidak merasa ter-cekik
- Tidak ada sianosis
- Tidak gelisah
- Sputum berkurang
Respiratory status : ventilation (0403)
- Respirasi dalam rentang normal
- Ritme dalam batas normal
- Ekspansi dada simetris
- Tidak ada sputum di jalan napas
- Tidak ada penggunaan otot-otot tambahan
- Tidak ada retraksi dada
- Tidak ditemukan dispneu
- Dispneu saat
aktivitas ti-dak ditemukan
- Napas
pendek-pendek ti-dak ditemukan
- Tidak ditemukan
taktil fremitus
- Tidak ditemukan
suara napas tambahan
|
Airway manajemen ( 3140)
1 Buka jalan napas, gunakan teknik chin lift atau jaw thrust bila perlu
2 Posisikan klien untuk memaksimalkan ventilasi
3 Identifikasi pasien perlunya pemasangan jalan napas buatan
4 Pasang mayo bila perlu
5 Lakukan fisioterapi dada bila perlu
6 Keluarkan secret dengan batuk atau suction
7 Auskultasi suara napas , catat adanya suara tambahan
8 Kolaborasi pemberian bronkodilator bila perlu
9 Monitor respirasi dan status oksigen
Respirasi Monitoring (3350)
1 Monitor rata-rata, ritme, kedalaman, dan usaha napas
2 Catat gerakan dada apakah simetris, ada penggunaan otot tambahan, dan
retraksi
3 Monitor crowing, suara ngorok
4 Monitor pola napas : bradipneu, takipneu, kusmaull, apnoe
5 Dengarkan suara napas : catat area yang ventilasinya menurun / tidak ada
dan catat adanya suara tambahan
6 K/p suction dengan mendengarkan suara ronkhi atau crakles
7 Monitor peningkatan gelisah, cemas, air hunger
8 Monitor kemampuan klien untuk batuk efektif
9 Catat karakteristik dan durasi batuk
10 Monitor
secret di saluran napas
11 Monitor
adanya krepitasi
12 Monitor
hasil roentgen thorak
13 Bebaskan
jalan napas dengan chin lift atau jaw thrust bila perlu
14 Resusitasi
bila perlu
15 Berikan
terapi pengobatan sesuai advis (oral, injeksi, atau terapi in-halasi)
Cough Enhancement (3250)
1 Monitor fungsi paru-paru, kapasitas vital, dan inspirasi maksimal
2 Dorong pasien melakukan nafas dalam, ditahan 2 detik lalu batuk 2-3 kali
3 Anjurkan klien nafas dalam beberapa kali, dikeluarkan dengan pelan-pelan
dan ba-tukkan di akhir ekspirasi
Terapi Oksigen (3320)
1. Bersihkan secret di mulut, hidung dan tra-khea / tenggorokan
2. Pertahankan patensi jalan nafas
3. Jelaskan pada klien / keluarga tentang pentingnya pemberian oksigen
4. Berikan oksigen sesuai kebutuhan
5. Pilih peralatan sesuai kebutuhan : kanul nasal 1-3 l/mnt, head box
5-10 l/mnt, dll
6. Monitor aliran oksigen
7. Monitor selang oksigen
8. Cek secara periodik selang oksigen, air humidifier, aliran oksigen
9. Observasi tanda kekurangan oksigen : gelisah, sianosis dll
10. Monitor
tanda keracunan oksigen
11. Pertahankan
oksigen selama dalam trans-portasi
12. Anjurkan
klien / keluarga untuk menga-mati persediaan oksigen, air humidifier, jika
habis laporkan petugas
|
|
9.
|
Intoleransi
aktivitas b.d ketidakseimbangan suplai dan kebutuhan O2, kelemahan
Batasan
Karakteristik :
- Laporan kerja : kele-lahan dan kelemahan
- Respon terhadap akti-vitas menunjukkan na-di dan
tekanan darah abnormal
- Perubahan EKG me-nunjukkan aritmia / disritmia
- Dispneu dan ketidak-nyamanan yang sangat
- Gelisah
|
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama …
x 24 jam, klien mampu mencapai : activity toleransi , dengan
indikator :
Activity tolerance (0005)
- Saturasi
oksigen dalam batas normal ketika beraktivitas
- HR dalam batas
normal ketika beraktivitas
- Respirasi dalam
batas normal saat beraktivitas
- Tekanan darah
sistolik dalam batas normal saat beraktivitas
- Tekanan darah
diastolik dalam batas normal saat beraktivitas
- EKG
dalam batas normal
- Warna
kulit
- Usaha
bernafas saat beraktivitas
- Berjalan
di ruangan
- Berjalan
jauh
- Naik
tangga
- Kekuatan
ADL
- Kemampuan
berbicara saat latihan
|
Activity therapy (4310)
Catat
frekuensi jantung irama, perubahan tekanan darah sebelum, selama,
setelah beraktivitas sesuai indikasi
2 Tingkatkan
istirahat, batasi aktivitas dan berikan aktivitas senggang yang tidak berat
3 Batasi pengunjung
4 Monitor / pantau respon emosi, fisik, sosial dan spiritual
5 Jelaskan pola
peningkatan aktivitas secara bertahap
6 Bantu klien mengenal
aktivitas dengan penuh arti
7 Bantu klien
mengenal pilihan untuk baktivitas
8 Bantu klien mengenal dan memperoleh akal, sumber yang dibutuhkan untuk
keinginan beraktivitas
9 Tentukan kien
komitmen untuk me-ningkatkan frekuensi dan atau jarak un-tuk
aktivitas
10 Kolaborasi yang berhubungan dengan fisik, terapi
rekreasi, pengawasan program aktivitas yang tepat
11 Bantu klien membuat rencana yang khusus
untuk pengalihan aktivitas rutin tiap hari
12 Bantu klien / keluarga mengenal ke-kurangan mutu
aktivitas
13 Latih klien / keluarga mengenai peran fisik,
sosial, spiritual , pengertian aktivitas didalam pemeliharaan kesehatan
14 Bantu klien / keluarga menyesuaikan ling-kungan
dengan keinginan aktivitas
15 Berikan aktivitas yang meningkatkan perhatian
dalam jangka waktu tertentu
16 Fasilitasi penggantian aktivitas ketika klien
sudah melewati batas waktu, energi dan pergerakan
17 Berikan lingkungan yang tidak berbahaya
untuk berjalan sesuai indikasi
18 Berikan
bantuan yang positif untuk partisipasi didalam aktivitas
19 Bantu
klien menghasilkan motivasi sendiri
20 Monitor emosi, fisik, sosial, dan spiritual dalam
aktivitas
21 Bantu klien / keluarga monitor men-apatkan
kemajuan untuk mencapai tujuan
Dysrhythmia management (4090)
Aktivitas
:
1. Mengetahui dengan pasti klien dan ke-luarga yang mempunyai riwayat
penyakit jan-ung
2. Monitor dan
periksa kekurangan oksigen keseimbangan asam basa, elektrolit.
3. Rekam
EKG
4. Anjurkan
istirahat setiap terjadi serangan.
5. Catat frekuensi dan lamanya serangan .
6. Monitor hemodinamik.
|
4.
KESIMPULAN
Diare adalah
peningkatan dalam frekuensi buang air besar (kotoran), serta pada kandungan air
dan volume kotoran itu. Para Odha sering mengalami diare. Diare dapat menjadi
masalah berat. Diare yang ringan dapat pulih dalam beberapa hari. Namun, diare
yang berat dapat menyebabkan dehidrasi (kekurangan cairan) atau masalah gizi
yang berat. Ditandai dengan anak cengeng, gelisah, suhu tubuh naik, nafsu makan
berkurang kemudian timbul diare. Tinja mungkin disertai lendir dan darah. Warna
tinja makin lama berubah kehijauan karena bercampur dengan empedu, daerah anus
dan sekitarnya timbul luka lecet karena sering defikasi dan tinja yang asam
akibat laktosa yang tidak diabsorbsi usus selama diare. Gejala muntah dapat
timbul sebelum atau selama diare dan dapat disebabkan karena lambung turut
meradang atau akibat gangguan keseimbangan asam basa dan elektrolit. Bila
kehilangan cairan terus berlangsung tanpa pergantian yang memadai gejala
dehidrasi mulai tampak yaitu : BB turun, turgor kulit berkurang, mata dan
ubun-ubun cekung (bayi), selaput lendir bibir dan mulut, serta kulit kering.
Hal ini disebabkan
1.
Faktor infeksi
a.
Infeksi enteral. Infeksi saluran pencernaan yang merupakan
penyebab utama diare pada anak, meliputi infeksi bakteri (Vibrio, E. coli,
Salmonella, Shigella, Campylobacter, Yersinia, Aeromonas, dsb), infeksi virus
(Enterovirus, Adenovirus, Rotavirus, Astrovirus, dll), infeksi parasit (E.
hystolytica, G. lamblia, T. hominis) dan jamur (C. albicans).
b.
Infeksi parenteral. Merupakan infeksi di luar sistem
pencernaan yang dapat menimbulkan diare seperti: otitis media akut,
tonsilitis,bronkopneumonia, ensefalitis, dsb.
2.
Faktor malabsorbsi
Malabsorbsi karbohidrat:
disakarida (intoleransi laktosa, maltosa dan sukrosa), monosakarida
(intoleransi glukosa, fruktosa dan galaktosa). Intoleransi laktosa merupakan
penyebab diare yang terpenting pada bayi dan anak. Di samping itu dapat pula
terjadi malabsorbsi lemak dan protein.
3.
Faktor makanan
Diare dapat terjadi karena
mengkonsumsi makanan basi, beracun dan alergi terhadap jenis makanan tertentu.
4.
Faktor psikologis
Diare dapat terjadi karena
faktor psikologis (rasa takut dan cemas), jarang terjadi tetapi dapat ditemukan
pada anak yang lebih besar.
DAFTAR PUSTAKA
Chakraborty, Subhra, dkk. 2001. Concomitant Infection
of Enterotoxigenic Escherichia coli in an Outbreak of Cholera Caused by Vibrio
cholera O1 and O139 in Ahmedabad, India. JOURNAL OF CLINICAL
MICROBIOLOGY Vol. 39, No. 9 p. 3241–3246.
Depkes RI. 2005. Pedoman Teknis Imunisasi Tingkat Puskesmas.
Depkes RI
Direktorat Jendral Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan. 2008. Buku Saku Petugas Kesehatan LINTAS DIARE. Jakarta: Departemen Kesehatan RI.
Doengoes, M.E., 2000, Rencana
Asuhan Keperawatan, EGC, Jakarta.
Hidayat, Aziz Alimul. 2008. Pengantar Ilmu Kesehatan Anak. Surabaya : Salemba Medika
Johnson, M., et all. 2000. Nursing Outcomes Classification (NOC)
Second Edition. New Jersey: Upper Saddle River
Komite Medis RS. Dr. Sardjito. 2005. Standar Pelayanan Medis RS DR.
Sardjito. Yogyakarta: MEDIKA Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada.
Mattingly, David., Seward,Charles. 2006. Bedside Diagnosis 13th
Edition. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Mubarak, W. I., B.A. Santoso., K. Rozikin., and S.Patonah. 2006. Ilmu
Keperawatan komunitas 2: Teori & Aplikasi dalam Praktik dengan Pendekatan
Asuhan Keperawatan Komunitas, Gerontik, dan Keluarga. Jakarta: Sagung Seto.
Purwo Sudarmo S., Gama H.,
Hadinegoro S. 2002. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Anak: Infeksi dan Penyakit
Tropis. Ikatan Dokter Anak Indonesia. Jakarta: Balai Penerbit FKUI.
Santosa, Budi. 2007. Panduan Diagnosa Keperawatan NANDA 2005-2006.
Jakarta: Prima Medika
Simadibrata, M, Setiati S. 2006. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Edisi IV. Pusat Penerbitan Departemen
Sudoyo, Aru, dkk. 2006. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta:
Departemen Ilmu Penyakit Dalam FK UI.
Suriadi dan Rita Yulianni.
2006. Asuhan Keperawatan pada Anak Edisi
2. Jakarta : Penebar Swadaya
Widoyono. 2008. Penyakit Tropis Epidemiologi, Penularan,
Pencegahan dan Pemberantasannya. Jakarta : Erlangga

terimakasih banyak, sangat membantu sekali
BalasHapushttp://www.tokoobatku.com/
sama sama bos
HapusAda Obat Herbal Alami yang aman & efektif. Untuk Panggilan Cure Total +2349010754824, atau email dia drrealakhigbe@gmail.com Untuk Janji dengan (Dr.) AKHIGBE hubungi dia. Pengobatan dengan Obat Herbal Alami. Untuk: Demam Berdarah, Malaria. Menstruasi yang Nyeri atau Tidak Teratur. HIV / Aids. Penderita diabetes. Infeksi vagina. Keputihan Vagina. Gatal Dari Bagian Pribadi. Infeksi payudara. Debit dari Payudara. Nyeri & Gatal pada Payudara. Nyeri perut bagian bawah. Tidak Ada Periode atau Periode Tiba-tiba Berhenti. Masalah Seksual Wanita. Penyakit Kronis Tekanan Darah Tinggi. Rasa sakit saat berhubungan seks di dalam Pelvis. Nyeri saat buang air kecil. Penyakit Radang Panggul, (PID). Menetes Sperma dari Vagina Serta Untuk jumlah sperma rendah. Penyakit Parkinson. Lupus. Kanker. TBC Jumlah sperma nol. Bakteri Diare.Herpatitis A&B, Rabies. Asma. Ejakulasi cepat. Batu empedu, Ejakulasi Dini. Herpes. Nyeri sendi. Pukulan. Ereksi yang lemah. Erysipelas, Tiroid, Debit dari Penis. HPV. Hepatitis A dan B. STD. Staphylococcus + Gonorrhea + Sifilis. Penyakit jantung. Pile-Hemorrhoid. Rematik, tiroid, Autisme, pembesaran Penis, Pinggang & Nyeri Punggung. Infertilitas Pria dan Infertilitas Wanita. Dll. Ambil Tindakan Sekarang. hubungi dia & Pesan untuk Pengobatan Herbal Alami Anda: +2349010754824 dan kirimkan email ke drrealakhigbe@gmail.com Catatan Untuk Pengangkatan dengan (Dr.) AKHIGBE. Saya menderita kanker selama setahun dan tiga bulan meninggal karena sakit dan penuh patah hati. Suatu hari saya mencari melalui internet dan saya menemukan kesaksian penyembuhan herpes oleh dokter Akhigbe. Jadi saya menghubungi dia untuk mencoba keberuntungan saya, kami berbicara dan dia mengirimi saya obat melalui jasa kurir dan dengan instruksi tentang cara meminumnya. . Saya tidak benar-benar tahu bagaimana itu terjadi tetapi ada kekuatan dalam pengobatan herbal Dr Akhigbe. Dia adalah dokter jamu yang baik.
BalasHapus